LPDS Bekali Wartawan Dalam Penulisan Perubahan Iklim

Batam,BGN- Perubahan iklim  climate changed) berdampak sangat luas terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, bahkan perubahan sosial.Oleh sebab itu semua elemen masyarakat harus peduli terhadap lingkungan.

” Penulisan perubahan iklim sangat penting,” kata Pengajar Lembaga Pers Dr.Sutomo, Warief Djayanto Basorie dalam penjelasannya kepada tiga puluh wartawan cetak dan audio visual yang mengikuti Lokarkarya Wartawan yang bertajuk ” Meliput Perubahan  Iklim: di Batam.Pentingnya wartawan meningkatkan kemampuan bidang perubahan iklim ini karena terakit dengan lingkungan.

Perubahan iklim merupakan kerja manusia, jadi manusia pulalah yang harus memperbaiki lingkungan tersebut sehingga pembangunan di Indonesia tidak terhambat oleh  kurangnya informasi terhadap lingkungan.Karena kerusakan lingkungan khususnya pemanasan global sangat berdampak luas terhadap ekonomi dan sosial.

“Mengatasi kerusakan lingkungan dan perubahan iklim adalah kebersamaa,” kata Warief. Pemanasan global akibat pengurangan emisi gas karbon diokasida. Berkurang tersebut akibat penyusutan hutan dan pengrusakan hutan.

Secara global, 80 persen emisikarbon berasal dari pemakaian energi. Energi ini sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara.Bahan bakar ini dipakai untuk pembangkit listrik, menjalankan pabrik, mrnggerakkan transpor, dan menerangkan rumah da gedung. Bagi bagi Indonesai 77,6 persen emisi gas rumah kaca  berasal dari non-energi. ” Jadi ini perlu diketahui penulis,” lanjut Warief.

Direktur Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup Indonesia ( SIEJ ), IGG Maha Adi mengatakan, untuk menulis soal lingkukungan khususnya kerusakan hutan, maka wartawan dituntut mencari bahan-bahan yang relevan. ” Sebab, tak mungkin wartawan harus ke hutan,” katanya. Untuk melengkap tulisan soal kerusakan lingkungan hutan, maka organisasi-organisasi pecinta lingkungan umumnya memiliki website yang isinya soal lingkungan atau bahan yang dibutuhkan.

Masalah kerusakan hutan di Indonesia ,kata Maha Adi , mendapat sorotan internasional karena masih banyak hutan yang dapat menjaga atau setidaknya menurunkan emisi gas karbon dioksida akibat kerusakan hutan.

Pemimpin Redaksi Media News Indoneisa (MNI), Andri Arianto mengaku memperoleh pengetahuan soal pengertian pemanasan global, perubahan iklim, dan gangguan ekonomi serta perubahan usaha akibat perubahan iklim. Ia menjelaskan bahwa akibat pemanasan global dapat mencairnya permafrost (beku permanent ) es di Siberia. Dan bila es mencair akibat pemanasan global hingga 2-3 derajat, maka dipastikan permafrost itu mencair, menjadikan tingginya air laut. Akibat tinggi air laut dapat menyebabkan tsunami, dan ombak menerjang rumah-rumah penduduk di pesisir.

DELLA WONG

Leave a Comment